Tulisan dr Indonesia.

Posted on September 20, 2008 by xamumax.
Categories: Uncategorized.

Salam wrt..kisah ni saya baca dr 1 blog seorang sahabat dr indonesia..walaupun kdg2 tak faham sgt bhs indonesia yg agk2 pekat tu,sy buat2 faham jela.dlm tak faham terusik jiwa bila bce kisah ni..xtaula part mn yg kena,tp betulla jgk mcm kate sepupu sy,kdg2 tulisan dr indonesia ni lbh menusuk kalbu.sbb tulah die kirim kwn die beli buku “Ayat-ayat Cinta” versi indon eventhou die dh bace versi BM. hehe..wallahua’lam, jom bace kisah benar ini..(sy xalih bhs,kekalkn yg original) kalau xfaham awl2 tu,teruskn je bace..lame2 faham..huhuhuhuh… Judulnya “Arti sebuah hidayah”..

***************************************************************************

Assalamu’alaikum sahabat…

Aku mau curhat nih…uummm…bukan curhat sih, lebih ke berbagi. Ada sebagian sahabat yang nanya dan terheran-heran, “kok Angi yang sekarang beda sih ?”. Aku sih senyum aja, da ga sempet cerita panjang lebar kalo aku -Alhamdulillah- udah dapet hidayah.

Ceritanya begini nih, buat yang masih penasaran tentang neng Angia Marissa…

Pertamanya juga ga nyangka sih kalo ini teh hidayah. Da setau aku mah hidayah teh buat orang yang non-muslim yang mau jadi muslim. Ternyata orang islam juga dapet hidayah yaa…(yg msh islam KTP hehehee). Jangan kan temen-temen dan keluarga, aku sendiri juga kaget, ternyata bisa juga ya kaya gini. Padahal dulu mah boro-boro kepikiran dapet hidayah, pengennya teh dapet Hape, dapet cowok keren, kaya, beunghar, kasep, bageur, etc…etc…oiya sempet deh dulu ngelamun, “pengen jadi orang terkenal”, tapi bukan artis ato selebritis, pokona mah tenar, populer di segala kalangan dan sepanjang masa. Sempet ngebayangin, mungkin umur 17 aku bakal jadi ini…..umur 19 jadi itu….umur 20 jadi anu….umur 25 merit…(lho?!). eh ternyata di umur 20 dapet hadiah dari 4JJ1 SWT. Mungkin ini buah lamunan. Ngelamun bisa jadi doa ya?! Alhamdulillah…

Sebelum dapet hidayah (insyaf), mikir teh cowok lagi cowok lagi. Kuliah males, kerjaan maen terus (atawa sare!), shopping ga puguh, bli ini itu tapi ga pada kepake. Lah pokona mah mengikuti kemana maunya hawa nafsu. Walaupun begitu, jauh di dalam hati kecil ini berkata, “Angi, kamu ga boleh lho kaya gini, mau tanggung jawab ga nanti di akhirat?!” Tapi bisikan itu aku anggap angin lalu, walaupun setiap saat selalu mengingatkan.

Ya saat itu memang aku beriman, aku percaya ada 4JJ1, aku tahu hidup itu harus seperti Rasulullah, aku paham mana salah dan benar. Tapi hati ini masih menuhankan hawa nafsu, masih campur-campur antara haq dan bathil, baik dan buruk. Aku memang berjilbab dari sejak kelas 1 SMA, tapi jilbab gaul dan seksi (cenah ieu mah…). Waktu SMA, jilbabku masih buka tutup, hanyalah seragam sekolah belaka. Padahal mamah juga dah bilang, kalo udah pake jilbab harus pake terus jangan buka tutup. Astagfirullah… dasar anak bodoh ga dengerin mamah ngomong. Tau kalo pake jilbab itu wajib, karena ada di Al-Qur’an (QS. Al Ahzab 59). Pakenya juga harus terulur sampai menutupi dada. Tapi tetep aja, aku pake jilbab gaul (yg dicekek getoh deah…). Pake baju juga yang ketat-ketat, yang berarti membungkus aurat bukan menutup aurat.

Kalo lagi di kampus, seneng deh liat teteh-teteh akhwat yang pake baju panjang (gamis) dan jilbab ‘raksasa’ (ABG = Akhwat Berjilbab Gede hehee…). Kok kelihatannya mereka ‘aman’ dan damai, bercahaya dan sungguh bersahaja. Aku pikir, “kapan yaa aku bisa kaya gitu?”. Sering banget punya keinginan kaya gitu dan berandai-andai. “Seandainya waktu pertama kuliah aku langsung pake baju dan jilbab panjang…”, “seandainya aku ga canggung pake baju gitu…”, “seandainya ga beli kaos yang itu…”, “seandainya… seandainya….”

Ketika lagi sibuk mikirin “seandainya…”, seorang teman lama datang dengan tiba-tiba dan ngasih buku “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan”. Pertamanya biasa aja ketika melihat buku itu, baca juga ga tamat. Maklum masih senang dengan dunia kan selalu menghindari buku-buku bernuansa Islami, dengerin ceramah di TV aja males buanget!!!

Setelah itu, aku masih saja sibuk dengan duniaku yang masih ngambang dan hampa. Pengen ini…hayu! Pengen itu…okeh! Semua dijabanin.

Kemudian di saat senggang aku iseng aja baca buku itu. Lho, kok rame sih?! Isinya simple, mudah dipahami, ga menggurui dan banyak menceritakan kisah-kisah Rasulullah SAW (ini bukan promosi lho…). Dari buku itu, aku jadi tahu kalo Rasulullah romantis banget! Jadi ngelamun pengen punya suami kaya beliau. Pernah suatu kali aku memimpikan sosok beliau. Alhamdulillah aku anggap aja itu adalah mimpi yang baik.

Ada kata-kata yang sangat mengena ketika membaca buku itu. “Bayangkanlah sejenak… ketika kita sedang bermaksiat dan melanggar larangan-larangan Allah, maka bisa terjadi di saat itu pula calon isteri atau calon suami kita sedang melakukan hal yang sama di sudut lain dunia.” Wuah… aku pikir bener juga ya?! Kalo kita adalah orang yang sholeh/sholehah, pastilah akan mendapatkan jodoh yang sholeh/sholehah juga. Bukankah Allah berfirman :“Wanita yang jahat untuk lelaki yang jahat dan lelaki yang jahat untuk wanita yang jahat. Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik…” (An Nur 26). MasyaAllah…aku teh jadi mikir, selama ini aku bukanlah perempuan yang sholehah, walaupun menurut pendirianku saat itu, aku ini orang ‘baik-baik’ (baik tetapi belum tentu benar). Aku ga mau dwong nanti punya suami yang sama dengan keadaanku. Karena aku yakin bahwa Allah telah menggariskan jodoh yang baik adalah menjaga dan mendidik diri menjadi yang terbaik. Saat itulah masa transisi dimulai…

Selesai baca buku itu, aku jadi merenung. Ternyata selama ini telah banyak dosa-dosa yang aku perbuat. Semakin dalam aku merenung, hati ini terasa sakit, malu, sedih, takut dan segala perasaan gelisah bercampur.

Lalu aku mendirikan sholat Maghrib. Selesai salam, aku kembali merenung. Ketika itu, aku mengingat kembali semua perbuatanku. Seolah-olah ingatan itu datang dengan sendirinya. Perasaan itu kembali datang. Akhirnya aku menangis sejadi-jadinya. Aku keluarkan semua yang ada di hati. Aku utarakan pada sang Illahi. Maluuu…rasanya ketika menengadah dan mengangkat tangan hendak berdoa. Diri ini terasa sangat hina dan rendah. Seakan tak berharga. Merasa semua dosa dan kesalahan tak akan di ampuni oleh-Nya. Dosa ini tak terhitung bagai debu, seperti pasir-pasir di pantai, ibarat sebesar alam semesta. Ya aku jujur pada-Nya aku telah banyak berdosa. Aku pikir, tak apalah aku tak masuk surga, tak apalah aku masuk neraka, aku hanya ingin semua dosa di ampuni saja, hanya ingin Allah ridho mengampuniku. Lama sekali aku bersimpuh, sibuk meminta ampunan-Nya. Tak terasa telekung yang kupakai sudah basah, mata pun sudah berat karena menangis terus.

Setelah kejadian itu, hari-hariku menjadi tenang. Entahlah…aku hanya ingin diam, tak mau banyak bicara (asalnya kan berisik, riweuh, cerewedh, centil dan amit-amit!) . Padahal dalam kepala ini penuh dengan segala macam pikiran. Yang teringat hanyalah Allah saja. Lalu aku jadi sering mendengarkan lagu-lagu Islami. Saat mendengar Asmaul Husna dilantunkan, seketika hati ini bergetar dan air mata tak kuasa kutahan.

“Ya Allah, apa yang terjadi denganku? Ini bukanlah rasa sedih, air mata ini adalah bukti takutnya diriku pada-Mu. Sungguh, begitu seringnya hamba lupa dan lalai mengingat-Mu. Inikah hidayah-Mu untukku? Saat Engkau menyapa dan berada begitu dekat.” inilah kata hatiku saat itu.

Firman Allah, “Bila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku adalah dekat…” (Al Baqarah 186).

“Sesungguhnya Aku bergantung pada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku akan selalu bersamanya saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka aku akan mengingatnya dalam diriKu. Jika ia mengingat-Ku di tengah-tengah keramaian orang, maka Aku akan mengingatnya di perkumpulan yang lebih dari mereka. Kalau hamba-Ku mendekat sejengkal, Ku sambut ia sehasta. Kalau ia mendekat sehasta, Ku sambut ia sedepa. Kalau hamba-Ku datang pada-Ku berjalan, Ku sambut ia dengan berlari…” (H.R.Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah {Hadist Qudsi}).
Cukuplah ini untuk membuatku berteriak, “Ya Allah, aku berlari menuju-Mu dengan cinta?!”

Ketika itu, sering aku menangis karena hal-hal kecil. Melihat langit, melihat orang-orang, melihat pepohonan, melihat anak kecil pun hati ini langsung terharu. Hati ini gampang sekali tersentuh, padahal hal-hal tersebut sering aku lihat setiap hari. Tapi semakin diperhatikan, kok aneh?! Kok bisa ya kita melihat, kok bisa ya kita bernapas, berjalan, ngobrol, makan, tidur lalu bangun. Sejak saat itu aku jadi selalu memperhatikan fenomena yang biasa terjadi setiap hari.

Subhanallah…memang Allah yang mengatur semua ini. Kemana saja aku selama ini? Setiap hari aku lalui tanpa rasa syukur. Astagfirullah…Rabbi ampuni Angi…

Seorang teman berkata, “Angi beda deh sekarang?!” aku hanya senyum dan bilang, “Alhamdulillah.” pernah suatu hari kita kumpul di kosan seorang teman, lalu aku ceritakan semua yang aku alami. Dan kita pun menangis sama-sama. Ya ada rasa sedih dan syukur yang bercampur jadi satu.

“Teman-teman, Angi yang sekarang sudah berubah. Ia telah menemukan jati dirinya, yaitu seorang muslimah. Ia telah mengenal dan jatuh cinta pada Penciptanya, Allah Ar-Rahman Ar-Rahim. Ia telah tahu tujuan hidupnya, mengikuti jejak Rasulullah SAW. Ia telah merasakan betapa nikmatnya Taqwa, indahnya Islam, manisnya Iman.”

Walaupun dari sikap dan pandangan hidup sudah berubah, tapi dalam berpakaian aku masih biasa saja, karena fasilitas baju panjang belum ada. Heheheee… Aku pun pulang ke kampung halaman tercinta. Di Bandung, aku selalu teringat orang tua. Mamah dan papah lagi apa?! Aku selalu berdoa, ya Allah semoga masih ada waktu untukku meminta maaf pada kedua orang yang telah memberikan kasih sayangnya selama aku hidup. Rasanya ga tenang kalo belum minta maaf.

Sebelum pulang ke kampung halaman, aku pun sempat meminta maaf pada teteh, tante, ua dan orang-orang terdekatku yang ada di Bandung. Ceritanya beginih…

Setiap kali sholat, aku jadi selalu menangis. Ketika itu, teteh dan ua jadi heran. “Angi kenapa? Kaya yang punya banyak masalah, selalu nangis”. Aku juga mikir, pasti orang rumah pada heran lihat aku nangis terus. Akhirnya aku niat minta maaf sama ua. Selesai sholat sambil masih nangis, aku hampiri ua, trus dia nanya-nanya, ” kenapa? Bla..bla..bla..bla…”. aku bilang, “alhamdulillah, sepertinya Angi dapet hidayah, jadi pengen berubah, sekiranya Angi punya salah, Angi minta maaf..bla…bla…bla…”. kata ua, “oh syukur kalo gitu mah, alhamdulillah masih muda udah dapet hidayah, maafin ua juga suka…bla…bla…bla…sok sekarang mah…bla..bla…bla…”. terus aja aku teh keliling minta maaf ke tiap orang di rumah. Sambil nangis-nangis sesenggukan. Da nunggu lebaran mah lama atuh, bisi keburu kiamat, ga sempet minta maap, kan dosa?!

Balik lagi nih ke cerita kampung halaman. Begitu sampai di rumah tercinta, aku langsung buka-buka lemari, cari baju gamis bekas teteh dan mamah. Mamah bilang, “ganti kostum niey…”. lalu aku cerita ke mamah kalo aku teh gini…gini…gini… ketika itu mamah langsung meluk dan cium aku, dia bersyukur dan sangat terharu. Ternyata doa mamah selama ini dikabulkan. Iya ya, aku pikir, selama ini aku bisa menjaga diri selain karena dijaga Allah berkat doa mamah juga. Makasih mamah, semoga Allah makin sayang mamah…

Terjadilah diskusi di keluargaku. Malam itu juga antara mamah, papah dan aku membahas Al-quran dan masalah seputar agama. Wuah…keren nih, jarang-jarang di rumah ngobrol masalah kaya gini, kan nambah ilmu. Alhamdulillah, ya janji Allah memang ngak bohong, kebahagiaan pun menghiasi ‘istana’ kami.

Sikap hidup, pandangan hidup, keinginan, semuanya telah berubah. Jauh berubah!

Sekarang aku lebih menjaga diri dari hal-hal yang bersifat duniawi tapi tidak ukhrawi. Ketika berbuat sesuatu, aku jadi selalu mikir, berani tanggung jawab ga nih nanti di akhirat?! Allah selalu melihat, tak pernah ada yang luput dari-Nya. Makanya suka jadi malu kalo buat kesalahan sekecil apapun.

Ketika waktu luang pun, selalu ku isi dengan baca buku buat nambah ilmu. Buku yang bermanfaat tentunya. Seperti Sirah Nabawi (rame euy, tapi blum tamat hehee…), tafsir Al-Qur’an, dsb. Juga ga lupa baca buku pelajran. Padahal dulu mah boro-boro baca buku. Kalo ga tidur, ngelamun, nonton gosip, ah nothing banget lah hidup teh!

Alhamdulillah…keinginanku mencari ilmu begitu semangat. Baru kerasa sekarang, kalo ilmu ternyata sangat dibutuhkan dan bermanfaat. Merasa udah telat nih, umur segini baru cari-cari ilmu yang harusnya mah udah didapat dari dulu. Tapi daripada ga di cari sama sekali?! Mumpung masih ada waktu, carilah ilmu. Bila waktu telah berakhir, teman sejati adalah amal. Semoga ilmu yang aku punya bisa aku amalkan sebaik-baiknya.

Setelah hidayah itu tiba (padahal tak pernah terlintas sedikitpun akan menjemputnya) seolah semua ingatan dan kenangan buruk masa lalu telah tertutup dan terhapus, hilang entah kemana. Serasa lahir kembali, hati dan tubuh ini bersih dan suci, ibarat bayi, seperti beningnya mata air, layaknya seberkas cahaya.

Tapi masih ada yang ga berubah, Angi masih manusia. Teuteup masih punya hawa nafsu. Kadang ngeri juga kalo tiba-tiba out of control. Na’udzubillah… Semoga istiqomah berada pada jalan-Nya.

Inilah sepercik kisah, buah dari memohon ampunan. Aku pikir itu bukanlah taubatan nasuha. Ternyata memohon ampun dengan tulus dan murni, jujur pada Allah, mengakui semua perbuatan dosa dan kesalahan dengan air mata ketulusan dan mengharap ridha-Nya, itulah Taubatan Nasuha.

“Hai orang-orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkah kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,..” (Q.S.At-Tahrim 66:8)

Inilah jalan yang telah diatur Allah untukku. Semoga tetap hanif (lurus). Semoga Allah selalu membimbingku, melindungiku, mengasihiku.

Inilah hijrahku untuk mencapai ridha-Nya dan cinta-Nya.

Mungkin sahabat yang telah mendapat hidayah, boleh berbagi denganku. Karena jalan untuk mendapatkan hidayah itu berbeda-beda.

Bagi yang belum hijrah, segeralah taubat, introspeksi dan memperbaiki diri menuju Jalan-Nya, mumpung masih di dunia, pintu ampunan masih terbuka, ajal belum menjemput. Kepada Allah sajalah kita bersimpuh.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi sahabat yang membaca. Maksud hati hanya ingin berbagi. Ampuni Angi ya Allah kalo niatnya lain. Semoga menjadi ibrah, pelajaran dan hikmah bagi yang membacanya. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati sahabat semua. Semoga Allah meridhoi tulisan ini.

Jika kita tidak bertemu di dunia, semoga Allah mempertemukan kita di surga. Wallahu a’lam bish showwab…

Wassalamu’alaikum wrt.

P/S :Rindu plk pd my lil sis kt Jakarta..